12 September 2009

__________________



layar hati terbentang..


pantulanmu kembali terlihat


pemandangan kenangan


penggalan momen-momen


...



di sini

bersama tetes air haru


kusyukuri . .


kesempatan itu


dan


kasih sayang ini. .



__________________

27 July 2009

h?dup


merasa seperti terdampar di sebuah mimpi kehidupan

saat tengah berjalan di sela-sela keramaian

seisi Mall termasuk tiap sekat ruang ditata cerah menarik
orang-orang terus berlalu lalang dengan penampilan yang cantik
tak ada sepi dengan meriahnya seruan iklan serta iringan musik

suatu bangunan favorit kebanyakan, tempat segala usia dapat dilihat
di supermarket, ibu-ibu cermat mengamat
memilah buah, sayuran, produk kemasan dan kebutuhan lainnya
dalam area khusus, adik-adik gembira berkeliling bersama 'gajah' tunggangannya
sejumlah keluarga menikmati hidangan variatif di tengah foodcourt
sekumpulan teman melangkah beriringan
tersebar pula remaja yang romantis berpacaran
sementara petugas, kasir, tukang, dan pelayan sibuk bekerja


entah mengapa, saat itu, mendadak sedih..
hampa..

sebenarnya, kita semua sedang apa?





____




Sabtu malam diajak mamanya pergi jalan-jalan. Kala mereka berdua berdiam menunggu giliran
mengantri isi pulsa dalam gerai, Sofia kecil mulai iseng memandang ke sekeliling. Di sebelah kiri ada kakek yang juga duduk menunggu, tampak mengunyah-ngunyah sehabis menguap. Di pojok kanan ada suster menggendong bayi nan lucu sembari mengarahkan botol susu ke mulutnya. Ada bapak-bapak dengan pakaian ala businessman sedang bercakap-cakap lewat HP seraya terpaksa berdiri saking penuhnya tempat duduk. Kadang-kadang Mas Customer Service keluar masuk lewat pintu 'selain petugas dilarang masuk'.

Sofia lanjut melamun. Sebuah pertanyaan terlintas saat pantatnya telah menempel di kursi sofa itu cukup lama. Anak SD ini teringat pelajaran Sains kemarin-kemarin ketika belajar di kelas.. Tujuan makhluk hidup berkembang biak adalah untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya supaya tidak punah.


Mempertahankan.. Sampai kapan ya?



Sayang, saat itu pertanyaan polosnya hanya terkurung di dalam hati.
Karena pikirnya, kalau dia sampaikan ke mamanya atau papanya, atau gurunya, nggak berani, takut bisa-bisa diocehin lagi - mama sibuk, kamu jangan nanya yang aneh-aneh lah, atau, emang dari sononya udah begitu, atau, kamu anak kecil nggak ngerti, atau apalah.. Soalnya beberapa kali pernah ia bertanya tentang macam-macam topik, responnya antara itu-itu.

Sofia kembali mengamati orang-orang di sana. Ada yang baca majalah.. ada yang asik ngobrol.. ada yang mendongakkan kepalanya menonton tayangan televisi dinding.. dan ada yang anteng-anteng saja seperti dia. Nanti, semua orang di dalam ruangan ini akan mati..


Jadi, buat apa hidup? kalau semua yang lahir pasti harus
mati di setiap generasinya?




...

Sekali lagi, untuk satu masa, jawabannya tertunda.
Hmm, tapi tak apa. Mungkin memang belum waktunya.
Semoga saja kelak sudah besar ia bisa
menemukannya.




"Enam Tujuh Dua?"


Mendengar panggilan nomor antrian itu, mama segera beranjak sambil menggenggam lipatan kertas kecil dengan angka yang sama. Tiba sudah giliran mereka.
"Hei, Pia, ayuk! Bengong aja!?" Mama sedikit senyum, setengah membalikkan tubuh menatapi matanya. Dan Sofia pun menyusul.



20 March 2009

panorama pagi

Jakarta, 17 March 2009, 06.15 am

Kembali kusempatkan diri untuk mengitari secuil permukaan bumi yang tak jauh dari tempat tinggal. Tepatnya ketika matahari bersiap-siap menunjukkan jati dirinya di timur sana. Angin segar menyapa tubuhku selaju putaran roda sepeda yang kukayuh perlahan. Burung- burung melayang kesana- kemari sambil berkicau di atas udara dan pepohonan. Serangga-serangga lainnya juga turut mengucapkan selamat pagi lewat suara khas masing-masing di balik semak dan rerumputan yang melambai-lambai. Menyenangkan sekali menikmati suasana ini..

Memandangi angkasa sebelah barat laut yang belum begitu terang, terdapat sekelompok titik air halus, yang barangkali, hendak menyiratkan suatu pesan dengan mengimpitkan gas serupa bentuk yang amat familiar, oh, angka dua..

Ya, dua.

Demikian kata awan di langit fajar..

Mendadak, aku terkesima. Lantas aku mulai membatin. Barangkali, ini fenomena langka ya.. Lalu, mengapa harus angka dua?

Barangkali, dua berarti aku dan kamu.
Tapi apalah arti aku kalau tidak ada kamu? Apa juga artinya kamu tanpa aku?
Mungkin, kita memang mendua. Karena 'wujud' kita terlihat beda. Yakni dualitas yang mewarnai hari demi hari. Baik buruk. Besar kecil. Hitam putih. Kiri kanan. Hidup mati. Dan sebagainya. Sayangnya, kita hanya ilusi.

Tapi, sejauh ini tak jarang aku tenggelam, sebagaimana orang yang masih harus belajar banyak. Terkadang kelewat senang. Terkadang kelewat sedih. Jarang-jarang bersikap netral, walau pernah. Mungkin, yang perlu kulakukan salah satunya adalah belajar lebih menerima diri sendiri, menerima sesuatu, menerima seseorang, menerima apapun dengan ikhlas ..di samping bergelut aktivitas untuk target duniawi. Membiarkan dan menontoni saja apa adanya.

...

Setelah beberapa lama kumelintasi jalanan yang selalu ditemani tumbuhan hijau, pelan-pelan angka dua itu tergeser angin. Tebaran serabut putihnya kian melebar horizontal. Pemandangan barusan tak lagi terukir jelas. Lengkungnya semakin samar, tercerai berai, dan pada akhirnya menjadi berantakan seperti teman-temannya yang lain. Tak lagi 'dua'.
Yah mudah-mudahan, dengan usaha tertentu kita juga demikian pada akhirnya. Melampaui dualitas, lewat celah kesadaran..

Hampir satu putaran jarum jam lamanya aku telah menjelajahi atmosfir ini. Aku merasa sekarang sudah waktunya pulang ke rumah, melanjutkan kegiatan yang akan kulakukan berikutnya. Setang sepeda kubelokkan hingga membalik arah. Kini semburat cahaya mentari bermula dari sebelah barat penglihatan. Kuterus menelusuri lintasan beraspal itu seraya berucap dalam hati ..Terima kasih alam, atas hadiah panorama pagimu disertai inspirasi yang berhasil membuka lembar usiaku yang kesembilan belas dengan begitu memukau..

13 February 2009

padang rumput

Cinta seperti rumput-rumput hijau nan indah yang menghiasi ladang hatinya. Serasa tumbuh tanpa sengaja, tanpa duga maupun rencana.

Tahukah kamu, perlahan-lahan, kini rerumputan itu telah meluas
menjadi hamparan padang rumput..